<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
PRAS menatap wajah Shinta yang tertunduk dengan sorot seakan hendak melumat gadis itu dalam suatu pengertian yang bulat–sorot yang khas: tajam tapi lembut, penuh pesona tapi kadang terasa menyiksa, tegas tapi–saat itu–gelisah dan penasaran. Di bawah siraman lampu kafe yang temaram, raut muka Shinta tampak jernih kemerah-merahan seperti langit senja sehabis hujan. Ia tertunduk, tatapan Pras tak lagi berani ia tentang. Terasa ada yang menggetarkan, selalu, tapi kali itu ada juga yang mencemaskan.
“Kenapa harus secepat ini, Shin?”
“Sudah setahun, Pras, cukup setahun.”
“Bukan, bukan kuliahmu, tapi kebersamaan kita.”
Pras benar. Bagi yang berpikir jauh ke depan, lima bulan sangat singkat untuk merajut benang-benang harapan. Shinta pun merasa. Tapi, “Apakah kepergianku besok harus jadi sebuah akhir, Pras? Tidakkah asa yang kita bina telah cukup kuat untuk melawan godaan jarak?”
“Ya, cukup kuat, bahkan sangat kuat. Tapi kamu sendiri enggak jelas, Shin, akan ke mana dan untuk apa.”
“Yang jelas aku akan belajar, lebih baik, lebih benar, tapi entah di mana. Setelah kuputuskan nanti, kamu pasti kukabari.”
Pras mendesah pelan, berusaha tersenyum, mencoba menghalau rasa galau. Di-raihnya tangan Shinta, dimainkannya jemari lentiknya, dan dengan tegas meski berat berkata, “Baiklah, Shin, aku akan menunggu kabarmu. Aku akan menunggumu.”
Shinta menatap cowoknya itu dengan pandangan mawar yang baru mekar. Ia tak kuasa bicara. Tak ada kata-kata di benaknya yang mampu melukiskan rasa terima kasih, cinta dan kebahagiaan yang meluap di hatinya. Diraihnya wajah Pras pada kedua sisi, dengan kedua tangannya. Dan seperti puisi:
there’s no word to tell
you what I feel
just a kiss I give
would make you believe.
* * *
SETELAH diantar pulang ke kos pukul sebelas malam itu, Shinta mengenang pertemuan pertamanya dengan Pras tujuh bulan lalu. Hari kesebelas tak masuk kelas, ia berangkat ke kampus waktu senja berganti malam. Seperti biasa, ia memilih perpustakaan sebagai “tempat kuliah”-nya yang baru. Seperti biasa, setelah memilih buku, ia beralih ke ruang lesehan. Dan seperti biasa, di situ ia bisa membaca berjam-jam.
“Non, hampir jam delapan, perpus akan tutup. Bangun, Non….”
Shinta gelagapan. Diucek-uceknya kedua matanya sambil menggeliat, lalu di-perhatikannya sekelilingnya. Sepi. Di depannya seorang cowok tersenyum geli. “Ya Tuhan, aku tertidur,” desisnya pelan, malu.
“Pulang, Non. Sudah mau tutup nih,” kata cowok itu sembari bangkit berdiri.
Agak grogi, Shinta segera ikut bangkit dan hendak langsung pergi. Tapi begitu tubuhnya tegak, ia terhuyung dan nyaris roboh. Untung cowok itu dengan sigap menangkap.
“Hati-hati, Non. Kalau belum sadar benar, jangan grasa-grusu begitu.”
Ups, malunya. Shinta berusaha menguasai diri, “Maaf, eh, terima kasih,” lalu bergegas meninggalkan tempat itu, meninggalkan cowok itu. Ia tak mendengar tawa kecil cowok itu yang tak lagi tertahankan.
Jengkel, geli dan penasaran. Dihempaskannya tubuhnya ke kasur begitu sampai di kamar. Dalam terpejam, wajah cowok itu muncul. Sialan, senyum gelinya men-jengkelkan. Tapi Shinta tersenyum geli juga mengingat tingkahnya sendiri. Dan, ehm, paras dan sorot mata elang cowok itu membikin penasaran.
Besoknya, pukul delapan pagi Shinta sudah melenggang memasuki per-pustakaan. Namun selama satu jam ia hanya berpindah dari satu kamar-buku ke kamar-buku yang lain. Tak pasti buku apa yang dicari. Yang pasti, semangat bacanya telah berganti gairah untuk bertemu dengan cowok itu.
Sampai hari menjelang sore, gairahnya tak terpenuhi. Akhirnya ia jengkel sendiri, memaki-maki diri sendiri. “Shit! Ngapain aku capek-capek cari dia? Uh, cowok sial!”
Keluar dari gedung perpustakaan, tahu-tahu dilihatnya cowok itu melintasi taman. Tanpa sadar ia mengejar. Tapi begitu jarak tinggal beberapa tindak, ia melam-batkan langkahnya. Ia tak tahu bagaimana harus menyapa; cowok itu tak melihatnya. Dan ia pun ragu: untuk apa?
Ia sudah minta maaf, sudah berterima kasih. Lalu apa lagi? Berkenalan? Tidak. Bukan dia yang mesti memulai, apalagi dengan mengejar-ngejar segala.
Di perempatan Gedung D, cowok itu belok kiri. Shinta memilih lurus, menuju ke kantin kampus. Baru ia merasakan perutnya keroncongan.
Kantin sepi. Sore seperti ini, mahasiswa biasanya lebih suka makan-minum atau sekedar cangkruk di kantin-kantin fakultas sebab lebih dekat ke ruang kelas. Kantin kampus memang terletak di wilayah titik pusat, bersama gedung rektorat, auditorium, lapangan upacara dan perpustakaan. Jadi, agak jauh dari gedung-gedung fakultas yang mengisi wilayah-wilayah pinggiran.
Shinta memesan sepiring rawon dan segelas es blewah, lalu menyantapnya dengan santai. Ia berusaha meredakan gejolak perasaan yang ganjil di dadanya.
Hatinya sudah benar-benar lega ketika ia hendak meninggalkan kantin itu. Tapi, “Hai,” sebuah suara menyapa.
Shinta terkesima. Cowok itu! Suaranya, senyumnya, mata elangnya–ya Tuhan!
“Hai juga,” balas Shinta meski tiba-tiba jadi salah-tingkah.
Beberapa saat Shinta masih terkesima bahkan setelah cowok itu meninggalkan-nya untuk memesan masakan.
Sepanjang jalan pulang Shinta bergulat melawan perasaannya sendiri, antara jengkel dan bahagia. Jengkel, sebab ternyata ia masih menyimpan rasa gugup yang tanpa sadar meletup sehingga ia tak bisa tenang untuk sekedar memancing perkenalan. Bahagia, sebab ia telah bertemu muka dan sedikit-banyak gairahnya terlampiaskan. Di balik semua itu adalah sebuah tekad yang diam-diam menguat: “Lain kali aku harus bisa membuatnya mengajakku berkenalan.”
Malam harinya Shinta memikirkan cara yang jitu. Ia membayangkan kembali dua kali pertemuannya, mengurai satu per satu segala hal yang tampak padanya. Tas! Ya, cowok itu membawa tas Alpina abu-abu persis seperti milik Mbak Nunik, teman sekosnya. Ide cemerlangnya muncul. Ia akan meminjam tas Mbak Nunik jika hendak ke perpustakaan. Dan bila cowok itu telah berada di sana, ia akan meletakkan tasnya persis di sebelah tas cowok itu, di tempat penitipan barang. Ia akan pulang duluan dan pura-pura salah mengambil tas. Tasnya sendiri hanya akan diisi buku catatan kuliah yang di sampulnya tertulis nama dan alamat kosnya. Cowok itu pasti akan mengambil tas itu, dan akan datang untuk menukar.
Masalahnya, bagaimana jika cowok itu datang ke perpustakaan tanpa tas Alpina abu-abunya? Atau, setelah tas mereka tertukar, ternyata cowok itu tak datang sebab di tasnya tak ada barang berharga, dan ia tak merasa bersalah atas tertukarnya tas itu sehingga buat apa menukarnya, apalagi barangnya persis sama?
Shinta berpikir lagi. Untuk kemungkinan pertama, ia harus memikirkan strategi lain. Untuk kemungkinan kedua, ia harus menyiapkan antisipasi yang tepat. Ia memilih memikirkan yang kedua dulu, baru nanti kemungkinan pertama.
Apa boleh buat, ia sendiri yang harus mencari cowok itu untuk minta maaf dan menukar tas; pun sebab ia memerlukan buku catatan yang terbawa dalam tasnya. Saat itulah ia akan memancing perkenalan secara langsung, misalnya dengan mengungkit isi tas cowok itu agar pembicaraan menjadi panjang.
Jika yang terjadi adalah kemungkinan pertama, mesti ada cara lain. Shinta teringat kantin. Ia akan makan di kantin ketika cowok itu juga makan di sana. Sebisa mungkin, Shinta akan membuatnya duduk semeja. Jika tak bisa, ia akan menyelesaikan makannya bersamaan dengan cowok itu. Dan ia akan mendatangi kasir duluan, persis sebelum cowok itu. Jika cowok itu antri persis di belakangnya, ia akan pura-pura panik karena dompetnya tertinggal di kos. Pasti cowok itu akan terpancing untuk mem-bayarinya. Sebagai balasan, Shinta akan mengundangnya ke kosnya–sekaligus untuk mengganti uangnya.
Malam sudah tua ketika Shinta akhirnya tertidur.
Shinta bersiap-siap menjalankan strategi pertamanya pagi itu. Kalau cowok itu datang ke perpustakaan dengan tas Alpina abu-abunya, bersiaplah masuk perangkap. Dengan semangat meluap ia berangkat ke kampus.
Perpustakaan masih sepi. Di tempat penitipan barang, belum ada satu tas pun. Shinta meletakkan tasnya, lalu masuk ke kamar-media. Di situ ia mencari jurnal pendidikan dari Boston yang memuat tokoh-tokoh pendidikan dunia. Tapi mood-nya tidak sedang in. Ia melamun.
“Ngelamun, Non. Nanti malah tidur,” sebuah suara mengejutkannya.
Dan ia benar-benar terkejut. Cowok itu! Sialan itu sudah berada di sampingnya, dengan cengar-cengirnya yang menjengkelkan sekaligus bikin penasaran. Shinta tolah-toleh, memastikan bahwa ruangan itu masih sepi, bahwa ia tak usah malu sendiri.
“Sori, Non, ngagetin. Habis, nafsu isengku langsung kumat ngeliat cewek cakep pagi-pagi sudah ngelamun.”
“Nan, non, nan, non, ‘ngganggu lagi.” Shinta sok ketus, tapi tak kuasa menahan senyum manis yang keburu mengembang di bibirnya sendiri.
Cowok itu mengulurkan tangannya, ramah. “Pras,” ujarnya mengenalkan diri.
“Shinta.”
Shinta tak perlu capek-capek menjalankan strategi mautnya. Mangsa sudah di tangan. Ternyata mangsa yang menyenangkan. Sebentar saja mereka sudah terlibat dalam obrolan seru.
* * *
SETELAH mengantar shinta pulang, pras tak langsung menuju ke kosnya. Ia mampir di bunderan Tugu, mengenang tempat dan saat mereka jadian. Meski malam berangkat tua, masih ramai juga di situ seperti biasa: pasangan kekasih, waria, pelacur dan orang gila. Pras memilih tempat kosong, di sebelah utara, persis di pinggir kolam yang melingkari tugu itu.
Di tempat itulah, lima bulan lalu, tugu itu menjadi saksi bisu.
Sabtu malam, 27 Maret 1999.
“Shin, aku ingin mengatakan sesuatu. Aku percaya kamu mau mendengarkan. Jika nanti aku harus bertanya, aku yakin kamu sudah menyediakan jawabannya.” Pras mengucapkan ini dengan intonasi yang terjaga, tanpa melihat ke arah Shinta yang duduk di sampingnya.
Shinta merasa seperti perahu kecil diterpa angin sakal, menjelang pelabuhan.
“Kamu tahu, aku sebenarnya tak punya apa-apa. Materi, aku bukan anak orang kaya. Ilmu, aku tidak cerdas dan bukan kutu buku. Spirit, aku tak pernah dididik di lembaga keagamaan atau kerohanian apa pun. Aku sering ragu apakah aku bisa ada artinya bagimu.”
Shinta merasa badai itu semakin menggila.
“Tapi, kukira aku bisa berbagi sesuatu.”
Shinta melihat pelabuhan itu semakin dekat.
Pras menoleh, menatap Shinta, persis ketika Shinta meliriknya. Dua mata berjumpa, berbicara tentang segala hal yang tak terungkap dengan kata. Shinta segera tertunduk. Momen itu berlalu dalam hitungan detik.
“Shin, aku ingin berbagi cerita segala rasa. Maukah kamu menerima?”
Shinta merasa telah tiba di dermaga. Badai telah reda. Telah lega.
“Sebelum menjawab pertanyaanmu,” ucap Shinta pelan, “aku juga punya per-tanyaan yang harus kamu jawab.”
“Katakanlah.”
“Kenapa kamu memilih aku?” Pertanyaan yang tak terpikirkan oleh Pras, menikam. “Jawab dengan jujur, Pras.”
Tanpa pilihan, “Karena aku mencintaimu.”
“Ya, tapi kenapa aku?”
Tak ada jawab.
“Kenapa aku, Pras? Kenapa bukan Lala atau Aning atau Tyas?”
“Hanya kamu, Shin, yang selama ini mengerti aku, yang mau menegurku jika keliru, yang tak bosan menyalakan tungku semangat di dadaku jika baranya mulai mengabu.”
Shinta tersenyum. “Kamu mungkin keliru. Aku tak pernah bisa memahami kamu. Aku tak mengerti kenapa kamu yang begitu rajin kuliah, mahasiswa teladan, aktivis BEM, bisa jatuh cinta pada aku yang suka bolos, tak suka organisasi di kampus dan tak punya prestasi apa-apa. Aku tak mengerti kenapa kamu yang dicintai banyak cewek cakep di kampus malah memilih aku yang hanya bisa mengeluh, mengritik, mengeluh, mengritik. Tidak, Pras, aku tidak bisa memahami kamu meskipun telah mencoba.”
Pras pun tersenyum. “Karena aku tahu kamu mau mencoba, dan hanya kamu yang mau melakukannya. Sekarang giliranmu menjawab pertanyaanku.”
Lidah Shinta tiba-tiba terasa kelu. Kata-kata membeku. Ia menggeser duduknya, lebih rapat ke Pras. Tanpa bicara, kepalanya ia sandarkan ke lengan atas cowok itu.
* * *
SESUDAH “resmi” jadian, pras tak lagi sering ke kos Shinta. Cukup tiap Sabtu malam, atau kalau ada keperluan “ekstra”. Malam itu bukan malam Minggu, tapi Pras merasa ada yang harus dibicarakan segera.
“Tumben datang enggak nunggu sampai malam Minggu,” goda Shinta. “Kamu kan anak BEM, formalis. Pacaran ya harus formal juga, terjadwal, kalau bukan malam Minggu enggak ngapel.”
“Itulah soalnya. Sejak sama kamu, aku mengalami dekonstruksi gila-gilaan. Ya, semacam deformalisasi.”
Mereka tertawa bersama.
“Ada apa, Pras?” Pertanyaan Shinta bernada serius, sehabis gelak.
“Lho, memangnya harus nunggu ada apa? Kalau cuma ingin main, enggak boleh?”
“Enggak boleh!”
Sekali lagi tawa Pras meledak.
“Sudah, sudah,” stop Shinta sambil beranjak ke dalam, mengambil minum.
Begitu Shinta kembali, Pras langsung menyambut dengan pertanyaan yang mengejutkan.
“Kamu benar-benar enggak kuliah sama sekali?”
“Sejak beberapa minggu yang lalu, ya.”
Pras geleng-geleng kepala.
“Memangnya kenapa?”
“Orang tuamu bagaimana?”
Dahi Shinta berkerut. “Orang tua?”
“Ya, orang tua. Yang membiayai kamu di sini kan orang tuamu.”
Shinta bangkit. “Sebentar,” katanya sambil meninggalkan Pras ke dalam.
Shinta kembali membawa sepucuk surat, lalu menyerahkannya ke Pras.
Agak heran Pras membaca surat itu.
Ujung Pandang, 11 MEI 1999
Shinta Mahargasari tercinta,
Keluarga di Ujung Pandang sehat wal afiat. Semoga Shinta di Malang juga. Tapi membaca suratmu, mama belakangan sering susah tidur. Sulit baginya untuk mengerti apa yang sebenarnya Shinta mau. Mama pikir, keputusan Shinta untuk kuliah ke Malang sudah berdasarkan pertimbangan yang final. Itulah sebabnya kenapa kami mendukungmu sepenuh hati. Jika sekarang ternyata Shinta tidak bisa bertahan dengan keputusan yang Shinta buat sendiri, mama bertanya-tanya ada apa sebenarnya. Jika ada persoalan di luar kuliah, katanya, sebaiknya Shinta berterus terang, agar kami di sini bisa membantu.
Bagi papa sendiri, keterangan yang Shinta tulis di surat sudah cukup jelas. Soalnya memang kuliah yang tidak menyenangkan, yang “seperti di sekolah dasar”. Papa kira Shinta benar. Tapi itulah realitas pendidikan tinggi kita hari ini. Papa pikir, Shinta tidak usah menolaknya sama sekali. Meski sulit dan sedikit, di bangku kuliah ada hal-hal yang berguna juga. Shinta cukup mengambil yang berguna, yang Shinta anggap baik, dan membuang yang buruk dan mubazir. Papa malah khawatir nanti Shinta terjebak dalam arogansi hanya gara-gara gagal berkompromi dengan kenyataan yang hari ini Shinta hadapi.
Anakku tercinta,
Papa percaya Shinta dapat memutuskan dengan tepat langkah yang harus Shinta pilih untuk masa depan Shinta sendiri. Sebagaimana Shinta merasa keliru dengan keputusan untuk kuliah, nanti Shinta mungkin merasa keliru setelah memutuskan untuk berhenti kuliah. Pikirkanlah baik-baik segala seginya sebelum Shinta menentukan. Doa sekeluarga untuk kebaikan Shinta semata-mata.
Peluk sayang,
Papa.
Pras melipat kembali surat itu, lalu meletakkannya di meja. Ia tersenyum menatap Shinta.
“Lalu, apa keputusanmu?”
“Papa benar, aku tidak boleh gegabah. Apa pun keputusan yang kubuat, aku mesti memikirkannya masak-masak. Perlu waktu untuk itu. Ya kan, Pras?”
Pras membenarkan dengan senyum.
“Sebenarnya aku belum sepenuhnya mengerti dengan kekerasan sikapmu. Aku banyak tahu, dan mengalami, ketakbecusan pendidikan kita. Tapi aku tak pernah merasa perlu untuk meninggalkannya. Papamu benar, ambil yang perlu, lainnya buang. Kukira semacam itulah yang kulakukan selama ini.”
“Kamu percaya pendidikan membentuk watak?”
“Dalam banyak hal, ya.”
“Watak macam apa yang terbentuk dengan sikap kompromis semacam itu?”
“Kompromis?” Pras terdiam sejenak. Lalu, “Kompromis, watak kompromis.”
“Dan pragmatis,” timpal Shinta. “Betapa kaburnya sekarang beda antara sikap pragmatis dan sikap realistis. Tapi aku tak ingin terjebak dalam kekaburan itu.”
Pras menatap mata Shinta. Baru sekarang ia merasa tak ada apa-apanya di hadapan seorang cewek. Kebanggaan, rasa rendah diri yang tiba-tiba muncul, ke-kaguman dan rasa penasaran berbaur di dadanya.
“Shinta….”
Shinta segera memotong ucapan itu dengan telunjuknya ditegakkan di bibir Pras seakan memberinya kesempatan untuk membangkitkan lagi rasa percaya dirinya.
“Kalau misalnya kamu berhenti kuliah, apa yang akan kamu lakukan?”
“Yang jelas tetap belajar. Sekarang aku belum menemukan apa, bagaimana, di mana dan dengan siapa aku semestinya belajar. Aku baru tahu kenapa.”
“Kenapa kamu masih bingung dengan soal apa?”
“Kesenjangan yang kualami antara idealitas dan realitas pendidikan tinggi di sini membuatku kehilangan pegangan tentang masa depan. Dulu aku berpikir akan menjadi guru, sekarang kupikir betapa bermasalahnya profesi itu. Dulu aku mem-bayangkan alangkah menyenangkan menjadi pengacara, sekarang aku paham betapa kotor dan menjijikkan dunia advokasi di sini. Dulu aku bercita-cita fisikawan, sekarang kusadari betapa tidak bergunanya pekerjaan itu di tengah-tengah masyarakat yang terus-menerus dibodohi, dilaparkan dan dihina. Kukira aku akan mencari tahu dulu “apa” yang sesungguhnya dibutuhkan orang-orang di sekitarku, itu yang akan kupelajari sungguh-sungguh.”
“Kamu mau pulang liburan mendatang?”
“Entah.”
“Kupikir kamu sebaiknya mendiskusikan masalah ini dengan mamamu, paling tidak untuk membuat beliau mengerti.”
“Ya, kukira. Tapi aku sebenarnya punya rencana untuk melihat-lihat ke desa-desa, agar mengerti kehidupan mereka yang sebenarnya.”
“Kamu kan bisa melakukannya di sekitar Ujung Pandang.”
“Ya, akan kupikirkan.”
* * *
LIBURAN panjang akhir tahun ajaran 1998-1999 usai. Shinta telah kembali dari Ujung Pandang. Pagi itu ia menghadap dosen Penasehat Akademiknya untuk konsultasi rencana studi satu semester ke depan.
Pak Djoko, dosen PA-nya, geleng-geleng kepala melihat Kartu Hasil Studi-nya semester kemarin. Indeks Prestasi: 0,27.
“Shinta, apa saja yang kamu lakukan sampai IP-mu seperti ini?”
“Banyak, Pak.”
“Ya, banyak. Bapak tanya, apa saja?”
Shinta kebingungan, apa yang bisa disebutnya.
“Kerja?”
Shinta menggeleng.
“Kuliah di tempat lain?”
Shinta menggeleng.
“Sakit?”
Lagi-lagi Shinta menggeleng.
Pak Djoko tak bisa lagi menahan kejengkelannya. Tanpa melihat Shinta, ia berkata, “Kamu sebenarnya pintar. IP-mu semester pertama lebih dari 3,50. Sekarang hakmu tinggal 12 sks untuk semester ini.”
Shinta menerima Kartu Rencana Studi Sementara yang diberikan Pak Djoko, membacanya sekali, mencoret sejumlah matakuliah, lalu menyerahkannya kembali.
Pak Djoko membaca sekilas, memastikannya tidak melebihi jatah. Setelah me-nandatanganinya, ia menyerahkan kertas itu kembali, masih tanpa melihat Shinta.
Shinta berterima kasih, pamit dan meninggalkan kantor itu.
Di luar, Pras rupanya sudah menunggu. Mereka pun berjalan pulang, menuju ke kos Shinta.
“Bagaimana, jadi kuliah lagi?”
Shinta mengangguk, tersenyum.
“Pasti karena mamamu ya?”
“Mama hanya mengembalikan semangat kuliahku.”
“Artinya, masalah yang mendasar belum terpecahkan?”
“Ya, begitulah. Ah, sudahlah. Apa enggak punya bahan obrolan yang lebih me-nyenangkan? Aku lagi ingin bersenang-senang sekarang.”
“Okey, nanti pukul tujuh kujemput.”
Malam harinya Shinta dan Pras tak berdiskusi. Di Payung, hanya tersedia STMJ, roti dan jagung bakar, senda gurau, juga perang melawan dingin malam. Pras tahu Shinta masih menyimpan persoalan yang belum terpecahkan. Tapi ia tak hendak mengacaukan kegembiraan pacarnya. Mereka merasa malam yang lewat begitu hangat, walau angin menggigil.
* * *
MESKI hari panas, angin yang masuk lewat fentilasi ruang kuliah itu cukup sejuk. Meski sebagian besar mahasiswa sudah lelah dan mengantuk, dosen tua berkaca-mata tebal itu terus menerangkan teori hankamrata dengan berapi-api. Meski teman di sebelahnya telah terlelap, Shinta masih serius mendengarkan bagaimana dosennya membahas bahaya laten komunisme dan separatisme bagi integrasi Republik. Meski Pak Soetomo–dosen Kewiraan itu–baru saja menceritakan keruntuhan negara-negara komunis di pelbagai belahan bumi, ia masih mewanti-wanti para mahasiswanya agar berhati-hati dengan ajaran-ajaran sesat itu. Meski sesat dan berbahaya, katanya, sekarang menjadi bacaan yang populer bagi sebagian mahasiswa.
Dan meski Pak Tomo sudah memberikan waktu untuk tanya-jawab, sampai lima menit lewat, tak seorang pun yang tanggap.
“Apakah kelas hari ini bisa diakhiri?”
Suara berisik, buku masuk tas, dan koor: “Bisaaa….”
Tapi Shinta segera mengacungkan tangan.
“Ada masalah?” Pak Tomo menatap Shinta.
“Ya, Pak. Anda tadi menjelaskan tentang bahaya komunisme, kaitannya dengan hankamrata. Saya menangkap kesan bahwa Anda tidak menginginkan kita mempelajari komunisme. Padahal, bagaimana kita bisa mengerti bahaya komunisme jika tidak mempelajarinya? Saya kira, untuk itu tidak cukup hanya dengan mengetahui pemberontakan-pemberontakan PKI, tapi kita juga perlu menyelidiki komunisme secara obyektif, maksud saya dari segi filsafatnya, watak ideologisnya dan gerakan politiknya. Terima kasih.”
Suara-suara anonim:
“Huuu, sok kritis!”
“Sok intelek!”
“Caper nih, yee!”
“Biasa, pengen nilai A!”
Sebelum menjawab, Pak Tomo memukul-mukul mejanya sebab kelas tiba-tiba gaduh: mahasiswa-mahasiswa yang lain protes karena Shinta bertanya, padahal mereka hendak segera bubar.
“Bagus. Pertanyaan cerdas. Anda mungkin benar, bahwa saya cenderung tidak ingin Anda belajar komunisme. Untuk ini saya punya dua alasan. Pertama, kita perlu berbicara skala prioritas. Artinya, buat apa Anda menyibukkan diri mempelajari komunisme sementara materi pokok yang harus Anda pelajari menumpuk. Bidang studi Anda, misalnya, ilmu pendidikan. Akan lebih bermanfaat untuk mendalami materi-materi yang secara langsung terkait dengan ilmu itu, terutama matakuliah-matakuliah Anda, daripada menyibukkan diri dengan tetek-bengek komunisme segala macam.
“Kedua, jika Anda tidak dibimbing seorang ahli di bidang komunisme, kemungkinan besar nanti Anda akan terpengaruh. Saya tidak keberatan Anda mempelajari komunisme di bawah bimbingan yang berwenang.”
Sekali lagi Shinta mengangkat tangannya. Lalu: “Apakah Anda bersedia membimbing saya mengkaji komunisme?”
“O, tidak, tidak. Saya tidak berwenang untuk itu. Saya bukan ahli komunisme.”
“Ah, Bapak terlalu merendah. Jika bapak bukan ahlinya, bagaimana mungkin Bapak bisa mengatakan kalau komunisme itu berbahaya?”
“Saya hanya menjelaskan bahayanya dari segi keutuhan Republik ini. Sejarah menunjukkan itu, di tahun 1926, 1948, 1965. Saya tidak bisa membahas bahayanya bagi ideologi Pancasila, misalnya.”
“Maaf, Pak,” Shanti menanggapi tanpa mengangkat tangannya kali ini. “Saya kurang paham jika dikatakan bahwa pemberontakan-pemberontakan PKI itu dianggap mengganggu keutuhan Republik. Setahu saya, pemberontakan tahun 1926 adalah salahsatu momentum perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda. Dan Pemberontakan 1948 terjadi karena situasi-situasi sosial yang tak terkendali di saat-saat genting revolusi. Banyak faktor eksternal partai yang memicu tragedi itu. Pihak CC PKI sendiri tidak mau mengakui adanya rekayasa pemberontakan dari kalangan mereka. Dan G30S/PKI, menurut banyak sumber sejarah, justru terjadi karena rekayasa sekelompok perwira TNI/AD.”
“Dari mana Anda mendapatkan semua itu?” Suara Pak Tomo naik sampai nyaris serak. “Itu semua tidak benar. Sudah saya peringatkan, Anda harus hati-hati membaca buku. Sekarang memang banyak beredar buku-buku yang mencoba mem-belokkan jalannya sejarah. Sekali lagi, hati-hati ya, kalau baca buku. Sekian. Selamat siang.”
Pak Tomo ngeloyor pergi. Shinta terkesima. Yang lain: huuu….
Malam harinya Shinta membuka buku catatan hariannya, lalu menulis.
Malang, 14 September 1999
Setelah mama menyalakan lagi semangat kuliahku, lagi-lagi dosen mencoba memadamkannya. Tadi siang aku menanggapi keterangan Pak Tomo, dosen Kewiraan (betapa tak bergunanya matakuliah ini!). Dia memperingatkan (!) mahasiswa agar ber-hati-hati membaca buku, jangan sampai disusupi pikiran-pikiran komunis, sehingga keutuhan (!) Republik tetap terjaga. Aku masih percaya, mahasiswa bukan lagi murid SD yang belum bisa menentukan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk. Tapi Pak Tomo memperlakukan kami seperti anak SD. Ketika kukemukakan sebagian sejarah PKI dalam versi yang berbeda, dia malah marah. Dia menuduhku terpengaruh usaha-usaha yang hendak membelokkan sejarah.
Ya Tuhan, betapa sering kejadian semacam ini. Apakah di kampus memang tak ada tempat bagi mahasiswa seperti aku, yang terlalu ingin tahu?
* * *
DALAM beberapa hari, shinta memutuskan untuk sendiri. Ia tak hendak diusik, bahkan oleh Pras sekalipun. Kepada teman-teman sekosnya ia berpesan agar mereka mengatakan dirinya sedang tak di rumah jika ada yang mencarinya, bahkan lewat telepon sekalipun. Ia membaca buku-buku tentang pendidikan, dari Ki Hajar Dewantara sampai J. Drost, dari Al-Ghazali sampai Paulo Freire. Sekaranglah waktunya untuk tegas menentukan, berhenti atau terus kuliah.
Seminggu lewat, Shinta menulis surat.
Malang, 22 September 1999
Papa yang baik,
Shinta sudah memutuskan, ternyata lebih baik berhenti kuliah daripada me-neruskan pekerjaan tak berguna yang hanya buang-buang waktu dan biaya ini. Shinta sudah berusaha untuk lebih realistis, tapi kenyataan ternyata tak berubah. Yang bergeser hanya sudut pandang Shinta, dan ini celaka. Shinta tahu Papa mengerti. Tolong jelaskanlah pada mama tentang hal ini. Shinta mencintai Papa dan mama lebih dari yang Papa dan mama pikirkan. Oleh sebab itu, beri Shinta kesempatan untuk membuktikan ini dengan cara Shinta sendiri.
Papa, insya Allah minggu depan Shinta pulang ke Ujung Pandang. Tuhan Yang Rahman akan mempertemukan kita dalam keadaan yang baik, dalam suasana bahagia.
Sungkem cinta,
Shinta Mahargasari.
* * *
PAGI-PAGI, Shinta menelpon Pras.
“Hai, kapan datang?” Suara Pras di seberang membuat hati Shinta tergetar. “Kamu ke mana aja? Kenapa pergi enggak bilang-bilang?”
Shinta mencoba menenangkan perasaannya dengan menggoda, “Aduh, per-tanyaanmu banyak sekali. Kalau cuma kangen, enggak usah pake nanya-nanya deh. Terus terang aja.”
Pras tertawa.
“Eh, Pras, kamu enggak ada acara kan hari ini?”
“Banyak, Non. Kuliah, rapat BEM, makan….”
“Aku serius, Pras. Aku ingin menghabiskan hari ini di perpus, bersamamu. Please, kali ini saja. Aku enggak pernah minta kamu ngorbanin kuliah untuk aku. Just now, once.”
“Boleh.”
“Di perpustakaan kamar-media, 08.00 on time. See you.”
Pras sengaja terlambat. Ketika ia memasuki kamar-media, dilihatnya Shinta melamun di meja tempat dulu mereka berkenalan. Meski agak was-was, “ada apa”, ia mengulangi yang dulu dilakukannya.
“Ngelamun, Non. Nanti malah tidur.”
Shinta tersenyum.
“Pras, besok aku mau pulang. Keputusanku sudah bulat, tak boleh diganggu- gugat. Aku berhenti kuliah.”
Apa pun yang pernah Pras pikirkan, ucapan itu bagai petir yang tiba-tiba menyambar. Dahinya berkerut.
“Ya, karena itu aku ingin menghabiskan hari ini bersamamu. Ternyata aku telah jatuh cinta pada kampus ini, pada perpustakaannya, pada salah seorang mahasiswa-nya. Aku merasakan ini berat, tapi harus kulakukan.”
Seharian mereka di perpustakaan. Ada diskusi, debat seru, canda dan cumbu rayu. Semua ruangan di gedung itu mereka masuki.
Lalu senja, malam datang, perpisahan di kafe itu.
* * *
SHINTA dan Pras, di kamarnya sendiri-sendiri, tak bisa tidur malam itu. Mereka tahu, hati mereka telah jadi satu. Tapi jarak akan menjadi kenyataan yang mencemaskan.
“Aku akan tetap setia, Pras, sebab aku percaya, kamu juga.”
“Aku akan tetap setia, Shin, sebab aku percaya, kamu juga.”
Di luar kamar, kenyataan yang diam-diam mengintip berbisik-bisik tanpa kesetiaan. Mereka tak mendengarkan, tak hendak mendengarkan.
Malang, 17 Oktober 1999