Pengumpan:
Tulisan
Komentar

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

PRAS menatap wajah Shinta yang tertunduk dengan sorot seakan hendak melumat gadis itu dalam suatu pengertian yang bulat–sorot yang khas: tajam tapi lembut, penuh pesona tapi kadang terasa menyiksa, tegas tapi–saat itu–gelisah dan penasaran. Di bawah siraman lampu kafe yang temaram, raut muka Shinta tampak jernih kemerah-merahan seperti langit senja sehabis hujan. Ia tertunduk, tatapan Pras tak lagi berani ia tentang. Terasa ada yang menggetarkan, selalu, tapi kali itu ada juga yang mencemaskan.

“Kenapa harus secepat ini, Shin?”

“Sudah setahun, Pras, cukup setahun.”

“Bukan, bukan kuliahmu, tapi kebersamaan kita.”

Pras benar. Bagi yang berpikir jauh ke depan, lima bulan sangat singkat untuk merajut benang-benang harapan. Shinta pun merasa. Tapi, “Apakah kepergianku besok harus jadi sebuah akhir, Pras? Tidakkah asa yang kita bina telah cukup kuat untuk melawan godaan jarak?”

“Ya, cukup kuat, bahkan sangat kuat. Tapi kamu sendiri enggak jelas, Shin, akan ke mana dan untuk apa.”

“Yang jelas aku akan belajar, lebih baik, lebih benar, tapi entah di mana. Setelah kuputuskan nanti, kamu pasti kukabari.”

Pras mendesah pelan, berusaha tersenyum, mencoba menghalau rasa galau. Di-raihnya tangan Shinta, dimainkannya jemari lentiknya, dan dengan tegas meski berat berkata, “Baiklah, Shin, aku akan menunggu kabarmu. Aku akan menunggumu.”

Shinta menatap cowoknya itu dengan pandangan mawar yang baru mekar. Ia tak kuasa bicara. Tak ada kata-kata di benaknya yang mampu melukiskan rasa terima kasih, cinta dan kebahagiaan yang meluap di hatinya. Diraihnya wajah Pras pada kedua sisi, dengan kedua tangannya. Dan seperti puisi:

there’s no word to tell

you what I feel

just a kiss I give

would make you believe.

* * *

SETELAH diantar pulang ke kos pukul sebelas malam itu, Shinta mengenang pertemuan pertamanya dengan Pras tujuh bulan lalu. Hari kesebelas tak masuk kelas, ia berangkat ke kampus waktu senja berganti malam. Seperti biasa, ia memilih perpustakaan sebagai “tempat kuliah”-nya yang baru. Seperti biasa, setelah memilih buku, ia beralih ke ruang lesehan. Dan seperti biasa, di situ ia bisa membaca berjam-jam.

“Non, hampir jam delapan, perpus akan tutup. Bangun, Non….”

Shinta gelagapan. Diucek-uceknya kedua matanya sambil menggeliat, lalu di-perhatikannya sekelilingnya. Sepi. Di depannya seorang cowok tersenyum geli. “Ya Tuhan, aku tertidur,” desisnya pelan, malu.

“Pulang, Non. Sudah mau tutup nih,” kata cowok itu sembari bangkit berdiri.

Agak grogi, Shinta segera ikut bangkit dan hendak langsung pergi. Tapi begitu tubuhnya tegak, ia terhuyung dan nyaris roboh. Untung cowok itu dengan sigap menangkap.

“Hati-hati, Non. Kalau belum sadar benar, jangan grasa-grusu begitu.”

Ups, malunya. Shinta berusaha menguasai diri, “Maaf, eh, terima kasih,” lalu bergegas meninggalkan tempat itu, meninggalkan cowok itu. Ia tak mendengar tawa kecil cowok itu yang tak lagi tertahankan.

Jengkel, geli dan penasaran. Dihempaskannya tubuhnya ke kasur begitu sampai di kamar. Dalam terpejam, wajah cowok itu muncul. Sialan, senyum gelinya men-jengkelkan. Tapi Shinta tersenyum geli juga mengingat tingkahnya sendiri. Dan, ehm, paras dan sorot mata elang cowok itu membikin penasaran.

Besoknya, pukul delapan pagi Shinta sudah melenggang memasuki per-pustakaan. Namun selama satu jam ia hanya berpindah dari satu kamar-buku ke kamar-buku yang lain. Tak pasti buku apa yang dicari. Yang pasti, semangat bacanya telah berganti gairah untuk bertemu dengan cowok itu.

Sampai hari menjelang sore, gairahnya tak terpenuhi. Akhirnya ia jengkel sendiri, memaki-maki diri sendiri. “Shit! Ngapain aku capek-capek cari dia? Uh, cowok sial!”

Keluar dari gedung perpustakaan, tahu-tahu dilihatnya cowok itu melintasi taman. Tanpa sadar ia mengejar. Tapi begitu jarak tinggal beberapa tindak, ia melam-batkan langkahnya. Ia tak tahu bagaimana harus menyapa; cowok itu tak melihatnya. Dan ia pun ragu: untuk apa?

Ia sudah minta maaf, sudah berterima kasih. Lalu apa lagi? Berkenalan? Tidak. Bukan dia yang mesti memulai, apalagi dengan mengejar-ngejar segala.

Di perempatan Gedung D, cowok itu belok kiri. Shinta memilih lurus, menuju ke kantin kampus. Baru ia merasakan perutnya keroncongan.

Kantin sepi. Sore seperti ini, mahasiswa biasanya lebih suka makan-minum atau sekedar cangkruk di kantin-kantin fakultas sebab lebih dekat ke ruang kelas. Kantin kampus memang terletak di wilayah titik pusat, bersama gedung rektorat, auditorium, lapangan upacara dan perpustakaan. Jadi, agak jauh dari gedung-gedung fakultas yang mengisi wilayah-wilayah pinggiran.

Shinta memesan sepiring rawon dan segelas es blewah, lalu menyantapnya dengan santai. Ia berusaha meredakan gejolak perasaan yang ganjil di dadanya.

Hatinya sudah benar-benar lega ketika ia hendak meninggalkan kantin itu. Tapi, “Hai,” sebuah suara menyapa.

Shinta terkesima. Cowok itu! Suaranya, senyumnya, mata elangnya–ya Tuhan!

“Hai juga,” balas Shinta meski tiba-tiba jadi salah-tingkah.

Beberapa saat Shinta masih terkesima bahkan setelah cowok itu meninggalkan-nya untuk memesan masakan.

Sepanjang jalan pulang Shinta bergulat melawan perasaannya sendiri, antara jengkel dan bahagia. Jengkel, sebab ternyata ia masih menyimpan rasa gugup yang tanpa sadar meletup sehingga ia tak bisa tenang untuk sekedar memancing perkenalan. Bahagia, sebab ia telah bertemu muka dan sedikit-banyak gairahnya terlampiaskan. Di balik semua itu adalah sebuah tekad yang diam-diam menguat: “Lain kali aku harus bisa membuatnya mengajakku berkenalan.”

Malam harinya Shinta memikirkan cara yang jitu. Ia membayangkan kembali dua kali pertemuannya, mengurai satu per satu segala hal yang tampak padanya. Tas! Ya, cowok itu membawa tas Alpina abu-abu persis seperti milik Mbak Nunik, teman sekosnya. Ide cemerlangnya muncul. Ia akan meminjam tas Mbak Nunik jika hendak ke perpustakaan. Dan bila cowok itu telah berada di sana, ia akan meletakkan tasnya persis di sebelah tas cowok itu, di tempat penitipan barang. Ia akan pulang duluan dan pura-pura salah mengambil tas. Tasnya sendiri hanya akan diisi buku catatan kuliah yang di sampulnya tertulis nama dan alamat kosnya. Cowok itu pasti akan mengambil tas itu, dan akan datang untuk menukar.

Masalahnya, bagaimana jika cowok itu datang ke perpustakaan tanpa tas Alpina abu-abunya? Atau, setelah tas mereka tertukar, ternyata cowok itu tak datang sebab di tasnya tak ada barang berharga, dan ia tak merasa bersalah atas tertukarnya tas itu sehingga buat apa menukarnya, apalagi barangnya persis sama?

Shinta berpikir lagi. Untuk kemungkinan pertama, ia harus memikirkan strategi lain. Untuk kemungkinan kedua, ia harus menyiapkan antisipasi yang tepat. Ia memilih memikirkan yang kedua dulu, baru nanti kemungkinan pertama.

Apa boleh buat, ia sendiri yang harus mencari cowok itu untuk minta maaf dan menukar tas; pun sebab ia memerlukan buku catatan yang terbawa dalam tasnya. Saat itulah ia akan memancing perkenalan secara langsung, misalnya dengan mengungkit isi tas cowok itu agar pembicaraan menjadi panjang.

Jika yang terjadi adalah kemungkinan pertama, mesti ada cara lain. Shinta teringat kantin. Ia akan makan di kantin ketika cowok itu juga makan di sana. Sebisa mungkin, Shinta akan membuatnya duduk semeja. Jika tak bisa, ia akan menyelesaikan makannya bersamaan dengan cowok itu. Dan ia akan mendatangi kasir duluan, persis sebelum cowok itu. Jika cowok itu antri persis di belakangnya, ia akan pura-pura panik karena dompetnya tertinggal di kos. Pasti cowok itu akan terpancing untuk mem-bayarinya. Sebagai balasan, Shinta akan mengundangnya ke kosnya–sekaligus untuk mengganti uangnya.

Malam sudah tua ketika Shinta akhirnya tertidur.

Shinta bersiap-siap menjalankan strategi pertamanya pagi itu. Kalau cowok itu datang ke perpustakaan dengan tas Alpina abu-abunya, bersiaplah masuk perangkap. Dengan semangat meluap ia berangkat ke kampus.

Perpustakaan masih sepi. Di tempat penitipan barang, belum ada satu tas pun. Shinta meletakkan tasnya, lalu masuk ke kamar-media. Di situ ia mencari jurnal pendidikan dari Boston yang memuat tokoh-tokoh pendidikan dunia. Tapi mood-nya tidak sedang in. Ia melamun.

“Ngelamun, Non. Nanti malah tidur,” sebuah suara mengejutkannya.

Dan ia benar-benar terkejut. Cowok itu! Sialan itu sudah berada di sampingnya, dengan cengar-cengirnya yang menjengkelkan sekaligus bikin penasaran. Shinta tolah-toleh, memastikan bahwa ruangan itu masih sepi, bahwa ia tak usah malu sendiri.

“Sori, Non, ngagetin. Habis, nafsu isengku langsung kumat ngeliat cewek cakep pagi-pagi sudah ngelamun.”

“Nan, non, nan, non, ‘ngganggu lagi.” Shinta sok ketus, tapi tak kuasa menahan senyum manis yang keburu mengembang di bibirnya sendiri.

Cowok itu mengulurkan tangannya, ramah. “Pras,” ujarnya mengenalkan diri.

“Shinta.”

Shinta tak perlu capek-capek menjalankan strategi mautnya. Mangsa sudah di tangan. Ternyata mangsa yang menyenangkan. Sebentar saja mereka sudah terlibat dalam obrolan seru.

* * *

SETELAH mengantar shinta pulang, pras tak langsung menuju ke kosnya. Ia mampir di bunderan Tugu, mengenang tempat dan saat mereka jadian. Meski malam berangkat tua, masih ramai juga di situ seperti biasa: pasangan kekasih, waria, pelacur dan orang gila. Pras memilih tempat kosong, di sebelah utara, persis di pinggir kolam yang melingkari tugu itu.

Di tempat itulah, lima bulan lalu, tugu itu menjadi saksi bisu.

Sabtu malam, 27 Maret 1999.

“Shin, aku ingin mengatakan sesuatu. Aku percaya kamu mau mendengarkan. Jika nanti aku harus bertanya, aku yakin kamu sudah menyediakan jawabannya.” Pras mengucapkan ini dengan intonasi yang terjaga, tanpa melihat ke arah Shinta yang duduk di sampingnya.

Shinta merasa seperti perahu kecil diterpa angin sakal, menjelang pelabuhan.

“Kamu tahu, aku sebenarnya tak punya apa-apa. Materi, aku bukan anak orang kaya. Ilmu, aku tidak cerdas dan bukan kutu buku. Spirit, aku tak pernah dididik di lembaga keagamaan atau kerohanian apa pun. Aku sering ragu apakah aku bisa ada artinya bagimu.”

Shinta merasa badai itu semakin menggila.

“Tapi, kukira aku bisa berbagi sesuatu.”

Shinta melihat pelabuhan itu semakin dekat.

Pras menoleh, menatap Shinta, persis ketika Shinta meliriknya. Dua mata berjumpa, berbicara tentang segala hal yang tak terungkap dengan kata. Shinta segera tertunduk. Momen itu berlalu dalam hitungan detik.

“Shin, aku ingin berbagi cerita segala rasa. Maukah kamu menerima?”

Shinta merasa telah tiba di dermaga. Badai telah reda. Telah lega.

“Sebelum menjawab pertanyaanmu,” ucap Shinta pelan, “aku juga punya per-tanyaan yang harus kamu jawab.”

“Katakanlah.”

“Kenapa kamu memilih aku?” Pertanyaan yang tak terpikirkan oleh Pras, menikam. “Jawab dengan jujur, Pras.”

Tanpa pilihan, “Karena aku mencintaimu.”

“Ya, tapi kenapa aku?”

Tak ada jawab.

“Kenapa aku, Pras? Kenapa bukan Lala atau Aning atau Tyas?”

“Hanya kamu, Shin, yang selama ini mengerti aku, yang mau menegurku jika keliru, yang tak bosan menyalakan tungku semangat di dadaku jika baranya mulai mengabu.”

Shinta tersenyum. “Kamu mungkin keliru. Aku tak pernah bisa memahami kamu. Aku tak mengerti kenapa kamu yang begitu rajin kuliah, mahasiswa teladan, aktivis BEM, bisa jatuh cinta pada aku yang suka bolos, tak suka organisasi di kampus dan tak punya prestasi apa-apa. Aku tak mengerti kenapa kamu yang dicintai banyak cewek cakep di kampus malah memilih aku yang hanya bisa mengeluh, mengritik, mengeluh, mengritik. Tidak, Pras, aku tidak bisa memahami kamu meskipun telah mencoba.”

Pras pun tersenyum. “Karena aku tahu kamu mau mencoba, dan hanya kamu yang mau melakukannya. Sekarang giliranmu menjawab pertanyaanku.”

Lidah Shinta tiba-tiba terasa kelu. Kata-kata membeku. Ia menggeser duduknya, lebih rapat ke Pras. Tanpa bicara, kepalanya ia sandarkan ke lengan atas cowok itu.

* * *

SESUDAH “resmi” jadian, pras tak lagi sering ke kos Shinta. Cukup tiap Sabtu malam, atau kalau ada keperluan “ekstra”. Malam itu bukan malam Minggu, tapi Pras merasa ada yang harus dibicarakan segera.

“Tumben datang enggak nunggu sampai malam Minggu,” goda Shinta. “Kamu kan anak BEM, formalis. Pacaran ya harus formal juga, terjadwal, kalau bukan malam Minggu enggak ngapel.”

“Itulah soalnya. Sejak sama kamu, aku mengalami dekonstruksi gila-gilaan. Ya, semacam deformalisasi.”

Mereka tertawa bersama.

“Ada apa, Pras?” Pertanyaan Shinta bernada serius, sehabis gelak.

“Lho, memangnya harus nunggu ada apa? Kalau cuma ingin main, enggak boleh?”

“Enggak boleh!”

Sekali lagi tawa Pras meledak.

“Sudah, sudah,” stop Shinta sambil beranjak ke dalam, mengambil minum.

Begitu Shinta kembali, Pras langsung menyambut dengan pertanyaan yang mengejutkan.

“Kamu benar-benar enggak kuliah sama sekali?”

“Sejak beberapa minggu yang lalu, ya.”

Pras geleng-geleng kepala.

“Memangnya kenapa?”

“Orang tuamu bagaimana?”

Dahi Shinta berkerut. “Orang tua?”

“Ya, orang tua. Yang membiayai kamu di sini kan orang tuamu.”

Shinta bangkit. “Sebentar,” katanya sambil meninggalkan Pras ke dalam.

Shinta kembali membawa sepucuk surat, lalu menyerahkannya ke Pras.

Agak heran Pras membaca surat itu.

Ujung Pandang, 11 MEI 1999

Shinta Mahargasari tercinta,

Keluarga di Ujung Pandang sehat wal afiat. Semoga Shinta di Malang juga. Tapi membaca suratmu, mama belakangan sering susah tidur. Sulit baginya untuk mengerti apa yang sebenarnya Shinta mau. Mama pikir, keputusan Shinta untuk kuliah ke Malang sudah berdasarkan pertimbangan yang final. Itulah sebabnya kenapa kami mendukungmu sepenuh hati. Jika sekarang ternyata Shinta tidak bisa bertahan dengan keputusan yang Shinta buat sendiri, mama bertanya-tanya ada apa sebenarnya. Jika ada persoalan di luar kuliah, katanya, sebaiknya Shinta berterus terang, agar kami di sini bisa membantu.

Bagi papa sendiri, keterangan yang Shinta tulis di surat sudah cukup jelas. Soalnya memang kuliah yang tidak menyenangkan, yang “seperti di sekolah dasar”. Papa kira Shinta benar. Tapi itulah realitas pendidikan tinggi kita hari ini. Papa pikir, Shinta tidak usah menolaknya sama sekali. Meski sulit dan sedikit, di bangku kuliah ada hal-hal yang berguna juga. Shinta cukup mengambil yang berguna, yang Shinta anggap baik, dan membuang yang buruk dan mubazir. Papa malah khawatir nanti Shinta terjebak dalam arogansi hanya gara-gara gagal berkompromi dengan kenyataan yang hari ini Shinta hadapi.

Anakku tercinta,

Papa percaya Shinta dapat memutuskan dengan tepat langkah yang harus Shinta pilih untuk masa depan Shinta sendiri. Sebagaimana Shinta merasa keliru dengan keputusan untuk kuliah, nanti Shinta mungkin merasa keliru setelah memutuskan untuk berhenti kuliah. Pikirkanlah baik-baik segala seginya sebelum Shinta menentukan. Doa sekeluarga untuk kebaikan Shinta semata-mata.

Peluk sayang,

Papa.

Pras melipat kembali surat itu, lalu meletakkannya di meja. Ia tersenyum menatap Shinta.

“Lalu, apa keputusanmu?”

“Papa benar, aku tidak boleh gegabah. Apa pun keputusan yang kubuat, aku mesti memikirkannya masak-masak. Perlu waktu untuk itu. Ya kan, Pras?”

Pras membenarkan dengan senyum.

“Sebenarnya aku belum sepenuhnya mengerti dengan kekerasan sikapmu. Aku banyak tahu, dan mengalami, ketakbecusan pendidikan kita. Tapi aku tak pernah merasa perlu untuk meninggalkannya. Papamu benar, ambil yang perlu, lainnya buang. Kukira semacam itulah yang kulakukan selama ini.”

“Kamu percaya pendidikan membentuk watak?”

“Dalam banyak hal, ya.”

“Watak macam apa yang terbentuk dengan sikap kompromis semacam itu?”

“Kompromis?” Pras terdiam sejenak. Lalu, “Kompromis, watak kompromis.”

“Dan pragmatis,” timpal Shinta. “Betapa kaburnya sekarang beda antara sikap pragmatis dan sikap realistis. Tapi aku tak ingin terjebak dalam kekaburan itu.”

Pras menatap mata Shinta. Baru sekarang ia merasa tak ada apa-apanya di hadapan seorang cewek. Kebanggaan, rasa rendah diri yang tiba-tiba muncul, ke-kaguman dan rasa penasaran berbaur di dadanya.

“Shinta….”

Shinta segera memotong ucapan itu dengan telunjuknya ditegakkan di bibir Pras seakan memberinya kesempatan untuk membangkitkan lagi rasa percaya dirinya.

“Kalau misalnya kamu berhenti kuliah, apa yang akan kamu lakukan?”

“Yang jelas tetap belajar. Sekarang aku belum menemukan apa, bagaimana, di mana dan dengan siapa aku semestinya belajar. Aku baru tahu kenapa.”

“Kenapa kamu masih bingung dengan soal apa?”

“Kesenjangan yang kualami antara idealitas dan realitas pendidikan tinggi di sini membuatku kehilangan pegangan tentang masa depan. Dulu aku berpikir akan menjadi guru, sekarang kupikir betapa bermasalahnya profesi itu. Dulu aku mem-bayangkan alangkah menyenangkan menjadi pengacara, sekarang aku paham betapa kotor dan menjijikkan dunia advokasi di sini. Dulu aku bercita-cita fisikawan, sekarang kusadari betapa tidak bergunanya pekerjaan itu di tengah-tengah masyarakat yang terus-menerus dibodohi, dilaparkan dan dihina. Kukira aku akan mencari tahu dulu “apa” yang sesungguhnya dibutuhkan orang-orang di sekitarku, itu yang akan kupelajari sungguh-sungguh.”

“Kamu mau pulang liburan mendatang?”

“Entah.”

“Kupikir kamu sebaiknya mendiskusikan masalah ini dengan mamamu, paling tidak untuk membuat beliau mengerti.”

“Ya, kukira. Tapi aku sebenarnya punya rencana untuk melihat-lihat ke desa-desa, agar mengerti kehidupan mereka yang sebenarnya.”

“Kamu kan bisa melakukannya di sekitar Ujung Pandang.”

“Ya, akan kupikirkan.”

* * *

LIBURAN panjang akhir tahun ajaran 1998-1999 usai. Shinta telah kembali dari Ujung Pandang. Pagi itu ia menghadap dosen Penasehat Akademiknya untuk konsultasi rencana studi satu semester ke depan.

Pak Djoko, dosen PA-nya, geleng-geleng kepala melihat Kartu Hasil Studi-nya semester kemarin. Indeks Prestasi: 0,27.

“Shinta, apa saja yang kamu lakukan sampai IP-mu seperti ini?”

“Banyak, Pak.”

“Ya, banyak. Bapak tanya, apa saja?”

Shinta kebingungan, apa yang bisa disebutnya.

“Kerja?”

Shinta menggeleng.

“Kuliah di tempat lain?”

Shinta menggeleng.

“Sakit?”

Lagi-lagi Shinta menggeleng.

Pak Djoko tak bisa lagi menahan kejengkelannya. Tanpa melihat Shinta, ia berkata, “Kamu sebenarnya pintar. IP-mu semester pertama lebih dari 3,50. Sekarang hakmu tinggal 12 sks untuk semester ini.”

Shinta menerima Kartu Rencana Studi Sementara yang diberikan Pak Djoko, membacanya sekali, mencoret sejumlah matakuliah, lalu menyerahkannya kembali.

Pak Djoko membaca sekilas, memastikannya tidak melebihi jatah. Setelah me-nandatanganinya, ia menyerahkan kertas itu kembali, masih tanpa melihat Shinta.

Shinta berterima kasih, pamit dan meninggalkan kantor itu.

Di luar, Pras rupanya sudah menunggu. Mereka pun berjalan pulang, menuju ke kos Shinta.

“Bagaimana, jadi kuliah lagi?”

Shinta mengangguk, tersenyum.

“Pasti karena mamamu ya?”

“Mama hanya mengembalikan semangat kuliahku.”

“Artinya, masalah yang mendasar belum terpecahkan?”

“Ya, begitulah. Ah, sudahlah. Apa enggak punya bahan obrolan yang lebih me-nyenangkan? Aku lagi ingin bersenang-senang sekarang.”

“Okey, nanti pukul tujuh kujemput.”

Malam harinya Shinta dan Pras tak berdiskusi. Di Payung, hanya tersedia STMJ, roti dan jagung bakar, senda gurau, juga perang melawan dingin malam. Pras tahu Shinta masih menyimpan persoalan yang belum terpecahkan. Tapi ia tak hendak mengacaukan kegembiraan pacarnya. Mereka merasa malam yang lewat begitu hangat, walau angin menggigil.

* * *

MESKI hari panas, angin yang masuk lewat fentilasi ruang kuliah itu cukup sejuk. Meski sebagian besar mahasiswa sudah lelah dan mengantuk, dosen tua berkaca-mata tebal itu terus menerangkan teori hankamrata dengan berapi-api. Meski teman di sebelahnya telah terlelap, Shinta masih serius mendengarkan bagaimana dosennya membahas bahaya laten komunisme dan separatisme bagi integrasi Republik. Meski Pak Soetomo–dosen Kewiraan itu–baru saja menceritakan keruntuhan negara-negara komunis di pelbagai belahan bumi, ia masih mewanti-wanti para mahasiswanya agar berhati-hati dengan ajaran-ajaran sesat itu. Meski sesat dan berbahaya, katanya, sekarang menjadi bacaan yang populer bagi sebagian mahasiswa.

Dan meski Pak Tomo sudah memberikan waktu untuk tanya-jawab, sampai lima menit lewat, tak seorang pun yang tanggap.

“Apakah kelas hari ini bisa diakhiri?”

Suara berisik, buku masuk tas, dan koor: “Bisaaa….”

Tapi Shinta segera mengacungkan tangan.

“Ada masalah?” Pak Tomo menatap Shinta.

“Ya, Pak. Anda tadi menjelaskan tentang bahaya komunisme, kaitannya dengan hankamrata. Saya menangkap kesan bahwa Anda tidak menginginkan kita mempelajari komunisme. Padahal, bagaimana kita bisa mengerti bahaya komunisme jika tidak mempelajarinya? Saya kira, untuk itu tidak cukup hanya dengan mengetahui pemberontakan-pemberontakan PKI, tapi kita juga perlu menyelidiki komunisme secara obyektif, maksud saya dari segi filsafatnya, watak ideologisnya dan gerakan politiknya. Terima kasih.”

Suara-suara anonim:

“Huuu, sok kritis!”

“Sok intelek!”

“Caper nih, yee!”

“Biasa, pengen nilai A!”

Sebelum menjawab, Pak Tomo memukul-mukul mejanya sebab kelas tiba-tiba gaduh: mahasiswa-mahasiswa yang lain protes karena Shinta bertanya, padahal mereka hendak segera bubar.

“Bagus. Pertanyaan cerdas. Anda mungkin benar, bahwa saya cenderung tidak ingin Anda belajar komunisme. Untuk ini saya punya dua alasan. Pertama, kita perlu berbicara skala prioritas. Artinya, buat apa Anda menyibukkan diri mempelajari komunisme sementara materi pokok yang harus Anda pelajari menumpuk. Bidang studi Anda, misalnya, ilmu pendidikan. Akan lebih bermanfaat untuk mendalami materi-materi yang secara langsung terkait dengan ilmu itu, terutama matakuliah-matakuliah Anda, daripada menyibukkan diri dengan tetek-bengek komunisme segala macam.

“Kedua, jika Anda tidak dibimbing seorang ahli di bidang komunisme, kemungkinan besar nanti Anda akan terpengaruh. Saya tidak keberatan Anda mempelajari komunisme di bawah bimbingan yang berwenang.”

Sekali lagi Shinta mengangkat tangannya. Lalu: “Apakah Anda bersedia membimbing saya mengkaji komunisme?”

“O, tidak, tidak. Saya tidak berwenang untuk itu. Saya bukan ahli komunisme.”

“Ah, Bapak terlalu merendah. Jika bapak bukan ahlinya, bagaimana mungkin Bapak bisa mengatakan kalau komunisme itu berbahaya?”

“Saya hanya menjelaskan bahayanya dari segi keutuhan Republik ini. Sejarah menunjukkan itu, di tahun 1926, 1948, 1965. Saya tidak bisa membahas bahayanya bagi ideologi Pancasila, misalnya.”

“Maaf, Pak,” Shanti menanggapi tanpa mengangkat tangannya kali ini. “Saya kurang paham jika dikatakan bahwa pemberontakan-pemberontakan PKI itu dianggap mengganggu keutuhan Republik. Setahu saya, pemberontakan tahun 1926 adalah salahsatu momentum perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda. Dan Pemberontakan 1948 terjadi karena situasi-situasi sosial yang tak terkendali di saat-saat genting revolusi. Banyak faktor eksternal partai yang memicu tragedi itu. Pihak CC PKI sendiri tidak mau mengakui adanya rekayasa pemberontakan dari kalangan mereka. Dan G30S/PKI, menurut banyak sumber sejarah, justru terjadi karena rekayasa sekelompok perwira TNI/AD.”

“Dari mana Anda mendapatkan semua itu?” Suara Pak Tomo naik sampai nyaris serak. “Itu semua tidak benar. Sudah saya peringatkan, Anda harus hati-hati membaca buku. Sekarang memang banyak beredar buku-buku yang mencoba mem-belokkan jalannya sejarah. Sekali lagi, hati-hati ya, kalau baca buku. Sekian. Selamat siang.”

Pak Tomo ngeloyor pergi. Shinta terkesima. Yang lain: huuu….

Malam harinya Shinta membuka buku catatan hariannya, lalu menulis.

Malang, 14 September 1999

Setelah mama menyalakan lagi semangat kuliahku, lagi-lagi dosen mencoba memadamkannya. Tadi siang aku menanggapi keterangan Pak Tomo, dosen Kewiraan (betapa tak bergunanya matakuliah ini!). Dia memperingatkan (!) mahasiswa agar ber-hati-hati membaca buku, jangan sampai disusupi pikiran-pikiran komunis, sehingga keutuhan (!) Republik tetap terjaga. Aku masih percaya, mahasiswa bukan lagi murid SD yang belum bisa menentukan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk. Tapi Pak Tomo memperlakukan kami seperti anak SD. Ketika kukemukakan sebagian sejarah PKI dalam versi yang berbeda, dia malah marah. Dia menuduhku terpengaruh usaha-usaha yang hendak membelokkan sejarah.

Ya Tuhan, betapa sering kejadian semacam ini. Apakah di kampus memang tak ada tempat bagi mahasiswa seperti aku, yang terlalu ingin tahu?

* * *

DALAM beberapa hari, shinta memutuskan untuk sendiri. Ia tak hendak diusik, bahkan oleh Pras sekalipun. Kepada teman-teman sekosnya ia berpesan agar mereka mengatakan dirinya sedang tak di rumah jika ada yang mencarinya, bahkan lewat telepon sekalipun. Ia membaca buku-buku tentang pendidikan, dari Ki Hajar Dewantara sampai J. Drost, dari Al-Ghazali sampai Paulo Freire. Sekaranglah waktunya untuk tegas menentukan, berhenti atau terus kuliah.

Seminggu lewat, Shinta menulis surat.

Malang, 22 September 1999

Papa yang baik,

Shinta sudah memutuskan, ternyata lebih baik berhenti kuliah daripada me-neruskan pekerjaan tak berguna yang hanya buang-buang waktu dan biaya ini. Shinta sudah berusaha untuk lebih realistis, tapi kenyataan ternyata tak berubah. Yang bergeser hanya sudut pandang Shinta, dan ini celaka. Shinta tahu Papa mengerti. Tolong jelaskanlah pada mama tentang hal ini. Shinta mencintai Papa dan mama lebih dari yang Papa dan mama pikirkan. Oleh sebab itu, beri Shinta kesempatan untuk membuktikan ini dengan cara Shinta sendiri.

Papa, insya Allah minggu depan Shinta pulang ke Ujung Pandang. Tuhan Yang Rahman akan mempertemukan kita dalam keadaan yang baik, dalam suasana bahagia.

Sungkem cinta,

Shinta Mahargasari.

* * *

PAGI-PAGI, Shinta menelpon Pras.

“Hai, kapan datang?” Suara Pras di seberang membuat hati Shinta tergetar. “Kamu ke mana aja? Kenapa pergi enggak bilang-bilang?”

Shinta mencoba menenangkan perasaannya dengan menggoda, “Aduh, per-tanyaanmu banyak sekali. Kalau cuma kangen, enggak usah pake nanya-nanya deh. Terus terang aja.”

Pras tertawa.

“Eh, Pras, kamu enggak ada acara kan hari ini?”

“Banyak, Non. Kuliah, rapat BEM, makan….”

“Aku serius, Pras. Aku ingin menghabiskan hari ini di perpus, bersamamu. Please, kali ini saja. Aku enggak pernah minta kamu ngorbanin kuliah untuk aku. Just now, once.”

“Boleh.”

“Di perpustakaan kamar-media, 08.00 on time. See you.”

Pras sengaja terlambat. Ketika ia memasuki kamar-media, dilihatnya Shinta melamun di meja tempat dulu mereka berkenalan. Meski agak was-was, “ada apa”, ia mengulangi yang dulu dilakukannya.

“Ngelamun, Non. Nanti malah tidur.”

Shinta tersenyum.

“Pras, besok aku mau pulang. Keputusanku sudah bulat, tak boleh diganggu- gugat. Aku berhenti kuliah.”

Apa pun yang pernah Pras pikirkan, ucapan itu bagai petir yang tiba-tiba menyambar. Dahinya berkerut.

“Ya, karena itu aku ingin menghabiskan hari ini bersamamu. Ternyata aku telah jatuh cinta pada kampus ini, pada perpustakaannya, pada salah seorang mahasiswa-nya. Aku merasakan ini berat, tapi harus kulakukan.”

Seharian mereka di perpustakaan. Ada diskusi, debat seru, canda dan cumbu rayu. Semua ruangan di gedung itu mereka masuki.

Lalu senja, malam datang, perpisahan di kafe itu.

* * *

SHINTA dan Pras, di kamarnya sendiri-sendiri, tak bisa tidur malam itu. Mereka tahu, hati mereka telah jadi satu. Tapi jarak akan menjadi kenyataan yang mencemaskan.

“Aku akan tetap setia, Pras, sebab aku percaya, kamu juga.”

“Aku akan tetap setia, Shin, sebab aku percaya, kamu juga.”

Di luar kamar, kenyataan yang diam-diam mengintip berbisik-bisik tanpa kesetiaan. Mereka tak mendengarkan, tak hendak mendengarkan.

Malang, 17 Oktober 1999

Sekelam Malam

Arief selalu tahu kalau senja bisa begitu menakjubkan di pantai itu. Langit yang merah keemasan, matahari jingga yang mulai tenggelam, ombak yang berkejaran sambil memantulkan cahaya senja itu sehingga bagai berkelap-kelip jauh lebih indah dari lampu-lampu di diskotik, angin yang mulai dingin membisikkan musik-musik alam yang klasik lewat daun-daun cemara—apakah yang lebih menenteramkan daripada menikmati itu semua? Arief bisa lupa segalanya jika sedang sendiri saja di sana.

Tapi senja itu ia ditemani Nadia.

“Kalau enggak keberatan, kamu bisa bercerita padaku kenapa kalian bisa bubaran. Anita sayang banget sama kamu. Dan kukira, kamu juga. Lagian, kalian kan sudah tiga tahun lebih pacaran. Aku enggak yakin kalau masalahnya third-person. Pasti ada masalah lain yang lebih mendasar. Prinsip ‘kali ya?”

Arief tak mengiyakan dugaan sobatnya itu. Ia teringat ketika memutuskan jalinan kasih yang sudah mereka bina selama tiga tahun lebih.

Pagi-pagi sekali, hari Selasa 17 Nopember 1998 (bagaimana ia bisa melupakan hari dan tanggal itu?), Arief mendatangi tempat kos Anita. Agak kasar tangannya menekan bel di pintu. Kekecewaan, kemarahan, kesumat, luka dan sisa rasa tak percaya menyatu menggumpal dan nyaris meledak tak tertahankan.

“Cari siapa?”

“Anita.”

“Anitaaa…, ada yang nyari!”

Sebentar kemudian Anita muncul dari pintu. Rambut hitamnya yang panjang basah tergerai. Ia baru saja mandi rupanya. Tubuhnya hanya dibalut kaos oblong dan rok abu-abu seragam SMU.

“Arief, pagi sekali kamu. Ini kan baru jam enam.”

Sebelum Anita sempat duduk, bahkan di luar dugaan Arief sendiri, tiba-tiba “Plak!” Tangan kanannya menampar pipi kiri gadis itu. Anita terjatuh di bangku panjang. Air matanya seketika berlinang.

“Arief! Apa-apaan kamu?” Anita masih bisa membentak, meski terisak.

Arief tak segera menjawab. Matanya menyala. Parasnya saga. Gemuruh di dadanya tak reda. Ia tak tahu apa yang akan dikatakannya pertama. Kekecewaan? Kemarahan? Kesumat? Atau sakit hatinya?

“Bangsat kamu!” Ternyata makian.

“Apa? Bangsat? Datang pagi-pagi langsung main tampar lalu kamu bilang aku bangsat. Siapa yang bangsat?”

“Anita, sekarang kedokmu sudah terbongkar. Jangan berpura-pura lagi. Kamu anggap apa aku selama ini? Apa artinya kita pacaran kalau ternyata kamu… kamu….”

“Kamu apa?”

“Di mana kamu pukul sepuluh tadi malam?”

“Apa?”

“Jangan pura-pura budek, Non. DI MANA KAMU SEMALAM PUKUL SEPULUH? Ayo jawab! Enggak usah berpura-pura lagi.”

Wajah Anita berubah. Tapi ia langsung menunduk. Isaknya mengeras.

Selanjutnya Arief tak sampai hati mengingatnya.

* * *

 

“Kok jadi ngelamun sih, Rief. Ayo dong cerita. Aku nunggu nih.”

            Arief hanya menggeleng. Ia menghembuskan nafas kuat-kuat seakan hendak melepaskan gumpalan emosi yang tahu-tahu memenuhi dadanya kembali. Di kejauhan, matahari sudah menyentuh laut.

            “Kamu enggak mau cerita?”

            “Entahlah, Dia. Sebenarnya dari dulu aku pingin ngomongin ini ke kamu. Tapi….”

            Memori di kepala Arief kembali merekam peristiwa pagi itu.

            “Jadi, kamu sudah tahu semuanya?” Akhirnya Anita membuka suara di sela tangisnya yang tak juga reda.

            “Ya. Aku sudah tahu. Aku tahu kamu ternyata….” Arief tak jadi meneruskan kata-katanya.

            Tiba-tiba Anita bangkit dan bersimpuh di kakinya.

            “Maafkan aku, Rief. Aku benar-benar terdesak. Aku butuh uang untuk bayar kos, bayar SPP bulan ini; yang dikirimkan orangtuaku enggak cukup. Kamu tahu, adikku operasi. Nyawanya jauh lebih penting ketimbang kebutuhanku di sini. Makanya aku mengalah. Apakah aku salah?”

            “Anita! Kamu butuh uang? Kenapa enggak ngomong ke aku? Kenapa malah….” Lagi-lagi Arief tak kuasa meneruskan kata-katanya.

            “Enggak, Rief. Aku enggak ingin dibilang memanfaatkan kamu, mentang-mentang punya pacar anak orang kaya, aku akan minta uang ke kamu.”

            “Kamu enggak ingin dibilang memanfaatkan pacarmu, tapi apa kamu ingin dibilang….”

            “Rief! Please, maafkan aku. Aku sama sekali enggak bermaksud nyakitin kamu. Aku masih sayang kamu. Aku enggak ingin kita bubar hanya kesalahpahaman….”

            “Apa? Kesalahpahaman? Aku enggak salah paham, Anita. Kamu sudah memilih. Kamu enggak ingin kita bubar, tapi kamu memilih sebaliknya. Enggak usah pura-pura sedih. Berbahagialah dengan pilihanmu sendiri….”

            Tanpa kata-kata lagi Arief meninggalkan Anita yang sambil menangis memanggil-manggil namanya. Tapi Arief menoleh pun tak, jangankan berbalik. Ludah sudah tercampak ke tanah.

* * *

 

“Rief, kamu menangis?”

            Suara Nadia membuat Arief gelagapan.

“Enggak, enggak,” katanya sambil menyeka air matanya yang entah kapan membasahi kedua matanya.

“Maaf, Rief. Aku enggak bermaksud ngingatin kamu pada kejadian-kejadian yang menyakitkan. Aku hanya berpikir, kamu enggak bisa lagi memendam sendiri kepedihan kamu terus-menerus. Kamu mesti berbagi. Aku enggak tega ngeliat kamu murung terus sejak putus sama Anita. Kalau kamu percaya aku, aku siap dengerin apa pun yang akan kamu ceritakan. Tapi kamu boleh memilih teman yang lain. Edo, misalnya.”

“Enggak, Dia. Kamu enggak salah. Aku tahu kamu bisa kupercaya. Dan aku, aku ingin sekali berterus terang. Tapi enggak bisa….”

Dan ingatan Arief segera kembali ke malam itu, malam yang durhaka.

Pukul 21.30. Arief baru pulang dari Mitra 21, menemani sepupunya nonton Basil. Berniat mengenalkan kotanya tercinta pada sepupunya yang baru tiba dari desa, Arief menyetir mobilnya tak langsung menuju ke rumah. Ia berputar dulu ke kompleks plaza, melewati Balai Pemuda dan Tugu Bambu Runcing, baru ke Taman Bungkul.

Di antara Balai Pemuda dan Tugu Bambu Runcing  itulah, di Jl. Panglima Sudirman, Arief memilih jalur paling kiri dan memperlambat mobilnya. Di situ ia biasa menggoda ABG-ABG nakal yang ramai menunggu mangsa bila malam mulai tua. Malam itu ia ingin menunjukkan pada sepupunya, sisi gelap kehidupan remaja kota.

Tiba-tiba pandangannya membentur sesosok tubuh tinggi ramping sedang terlibat ‘transaksi’ dengan seorang lelaki gendut setengah baya. Gadis yang punya tubuh tinggi ramping itu seperti seseorang yang dikenalnya. Arief mendekatkan mobilnya sampai jarak sepuluh meter.

“Ya Tuhan, Anita… ,” desisnya.

“Siapa, Rief? Kamu mengenalnya?” Tanya sepupunya.

Arief tak menjawab. Matanya seperti ingin menelan pemandangan itu.

Ketika gadis dan lelaki gendut itu masuk ke BMW 528i yang diparkir tak jauh di depannya, Arief mematikan lampu depan mobilnya. Baru setelah mereka meninggalkannya kira-kira dalam jarak seratus meter, Arief segera mengejar. Ia tak ingin kehilangan mereka.

Sedan mewah biru metalik itu akhirnya masuk ke pelataran parkir hotel Sh.L. Arief tak lagi mengikuti. Dengan hati yang bergemuruh ia melarikan mobilnya ke rumahnya.

“Rief, kamu mengenal mereka?” Tanya sepupunya, sekali lagi.

Lagi-lagi Arief tak menjawab, tapi malah memutar kaset keras-keras.

* * *

 

“Sudah mulai gelap, Rief. Kita pulang.”

            Ajakan Nadia itu menjelmakan kembali laut di hadapannya. Matahari sudah tenggelam rupanya. Malam datang, kelam. Sekelam hati Arief yang tak pernah bisa menceritakan itu semua pada Nadia.Ó

 

Guluk-guluk, 9 Januari 1999

Cermin yang Pecah

Sekarang, harus bagaimana lagi aku? Pertanyaan ini berputar-putar di kepala ketika pada suatu senja aku terlentang di hamparan pasir pantai Lombang. Biasanya aku ke mari dengan seperangkat alat lukis dan tulis. Tetapi kali ini tidak.

            Matahari yang nyaris tenggelam membubuhkan warna senja di ufuk barat, merah kekuningan. Dua ekor burung melintas di cakrawala, seperti menggaris langit. Burung-burung lainnya masih asyik menyanyi di deretan pohon cemara; pepohonan itu menari mengikuti irama angin yang mulai dingin. Desirnya berpadu dengan lagu ombak yang berkejaran.

            Selalu aku terpesona dengan karya besar Sang Maha Agung itu. Biasanya semua itu kutuangkan pada kanvas atau kertas. Tak habis-habisnya. Tetapi kali ini tidak.

            Aku berangkat ke mari dengan seragam sekolah, tas sekolah dan motor kesayanganku, tanpa kanvas atau kertas.

            Saat aku hendak keluar dari gerbang sekolah tadi siang, Ida menghampiriku. “Gun, Vivi pengen ngomong ke kamu sekarang. Bisa enggak?” katanya setengah berbisik.

            “Apa?” Bukan aku tak mendengar kata-kata Ida, tapi apakah dunia sudah kiamat? Vivi, tunanganku yang seminggu lalu berkeras memutuskan tali pertunangan kami, apa lagi yang ingin dia bicarakan?

            “Aku serius, Gun. Kamu jangan berlagak bego. Vivi sendiri yang meminta,” rengek Ida setengah marah setengah merajuk.

            “Okey, tapi di mana?”

            “Di rumahku.”

            Begitu kami tiba di rumahnya, Ida langsung menyeretku ke kamarnya. Aku terkejut: Vivi sudah menunggu di situ.

            “Ada apa, kok kayak penting sekali?”

            “Ya, penting, sangat penting.”

            Seakan ada gejolak di dadanya. Agak lama ia terdiam, hanya berat nafasnya yang kudengar. Jemarinya memainkan ujung rambutnya yang tergerai panjang.

            Setelah kelihatan lebih tenang, ia membuka suara merdunya, “Kak Gun, Vivi harap Kak Gun mau mengerti Vivi. Sejak kecil Vivi menganggap Kak Gun sebagai kakak Vivi. Tidak lebih. Tidak akan pernah lebih.”

            “Vivi!”

            “Ya, Kak Gun, percuma Kak Gun memaksa. Bukankah Kak Gun sendiri pernah bilang kalo cinta enggak mungkin tumbuh dengan paksaan?”

            “Lalu, apa yang Vivi inginkan?! Memutuskan tunangan?”

            “Ya, kalo Kak Gun memang mencintai Vivi…”

            “Tidak! Kak Gun mencintai Vivi, dan karena itu Kak Gun ‘gak bakalan memutuskan ikatan pertunangan kita.”

            Vivi terisak. “Mengertilah, Kak Gun. Vivi…”

            “Vivi yang seharusnya mau mengerti Kak Gun. Lebih dari itu, Vivi harus mengerti kemauan orangtua kita. Mereka….”

            “Mereka telah membuat Vivi menderita dengan mempertunangkan kita ketika kita belum lahir, dan setelah sama-sama besar, baru mereka memberi tahu. Padahal Vivi sudah menganggap Kak Gun sebagai kakak kandung Vivi yang tidak mungkin Vivi cintai lebih dari itu.”

            “Vivi! Mereka tidak bermaksud….”

            “Mereka jahat! Mereka telah merusak tali persaudaraan kita. Iya, kan? Sejak kita diberi tahu tentang pertunangan kita, tidak ada lagi keakraban di antara kita….”

            “Itu karena Vivi sendiri. Jangan salahkan mereka….”

            “Ya, semua menyalahkan Vivi.”

            Aku nyaris tidak tahan dengan pertengkaran itu. Serasa ada yang terbakar di dada, serasa ada yang terluka. Aku bangkit dan melangkah ke pintu.

            “Kak Gun…,” suara Vivi terdengar lemah di antara isaknya yang kian menjadi.

            Langkahku terhenti. Kutarik kembali tanganku yang hendak membuka daun pintu di depanku. Kemudian aku berbalik menatapnya. Menantang tatapan yang memilukan itu, aku ingin bicara; tapi kata-kata di benakku seperti terbakar, tanpa sisa.

            “Vivi mohon, mengertilah, Kak Gun….”

            Tidak tahan dengan kepiluan yang ia tikamkan ke ulu hatiku, aku keluar. Di beranda kudapati Ida membaca buku CR. Tanpa permisi aku cabut dengan motorku, ke pantai ini.

            Senja berganti malam, aku segera berangkat pulang. Sebenarnya aku ingin bermalam di sini. Tetapi aku tidak ingin menyusahkan ibu. Bila aku keluar rumah tanpa pamit, apalagi sampai larut, beliau dengan gelisah menunggu di depan rumah.

            “Assalamu’alaikum,” sapaku pada beliau begitu aku tiba di beranda.

            “Wa’alaikum salam.” Dan seperti biasa, “Dari mana saja kamu, Gun?”

            “Dari Lombang, Bu.”

            Begitulah, kepada ibu aku selalu tidak bisa berbohong. Beliau, setidak-tidaknya bagiku, adalah seorang ibu yang sangat bijak. Hanya kepada ibu aku menceritakan segala persoalan yang kuhadapi.

            Pernah suatu kali, dengan nada frustasi kukatakan pada ibu bahwa aku gagal mendekati Vivi lagi. Jangankan berbicara, bertemu muka pun Vivi seolah tidak sudi. Tapi apa kata ibu?

            “Sabarlah, Gun. Barangkali memang masih belum waktunya Vivi mengerti kamu. Kamu tidak boleh menyerah. Tetapi kamu juga tidak boleh terlalu agresif. Laki-laki pantang menyerah, tetapi juga pantang jual murah.”

            Untunglah ayah belum datang dari Ujung Pandang. Sesudah makan malam aku menghampiri ibu yang sedang menonton tv di kamar tengah.

            “Ada apa, Gun, kamu kok kelihatan bingung?” Ibu memang selalu mengerti jika aku punya masalah, dan beliau selalu bertanya sebelum aku bercerita.

            Aku tidak segera menemukan kata pertama untuk kujawabkan pada ibu. Tidak seperti biasanya, aku bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya ingin aku sampaikan.

            Akhirnya kuceritakan saja pertengkaranku tadi siang dengan Vivi.

            Sehabis penuturanku, ibu tersenyum dan sedikit mengangguk-angguk. “Kamu bisa memenuhi keinginan Vivi?” tanya ibu tiba-tiba. Sebuah pertanyaan yang sama sekali tak kuduga.

            Aku tidak tahu harus menjawab apa. Bisa? Gila! Tidak? Ah, betapa pengecutnya aku.

            “Ibu mengerti kamu menghadapi buah simalakama. Pikirkan dulu masak-masak, Gun, baru katakan sikap kamu ke ibu. Nanti ibu bicarakan dengan ayah.”

            Beberapa hari kemudian, aku menceritakan dilema ini pada Agus, karibku.

            “Pokoknya rugi deh, Gun, kalo kamu sampe mutusin cewek secakep Vivi. Tapi enggak apa-apa juga asal kamu lempar ke aku. He he he ….”

            “Aku serius, Gus! Ini dilema. Cintaku membuat Vivi terbelenggu dan menderita; tapi api cintaku ini sudah terlalu besar untuk dipadamkan.”

            “Sebenarnya, apa yang membuatmu begitu mencintainya?”

            “Entahlah… perasaan ini tumbuh dan berkembang begitu saja sebelum aku tahu kami memang sudah bertunangan. Ketika aku tahu itu, aku hanya merasakan cinta ini menguat di hatiku. Kupikir, mencintainya ternyata juga berarti pengabdian pada orangtua.”

            “Aku mengerti, aku mengerti… sayang aku tidak bisa membantumu. Aku tidak tahu harus berbuat apa.”

            “Yakinkan aku tentang satu hal, Gus.”

            “Apa?”

            “Jika aku memutuskan pertunanganku dan berusaha membunuh cintaku, Vivi akan bahagia dan tidak akan ada kesumat di antara orangtua kami.” Serasa bergetar dadaku ketika kata-kata itu kuucapkan.

            “Setahuku, Vivi enggak punya pacar,” kata Agus nyaris bergumam, seolah berkata pada dirinya sendiri.

            “Ya, seandainya Vivi punya pacar, masalah ini bisa diselesaikan dengan baik. Tapi dia ‘gak punya pacar.”

            Perbincanganku dengan Agus berakhir tanpa hasil.

            Hari ke hari, dilema ini semakin menyiksaku. Aku masih selalu merindukan Vivi, tapi aku tidak ingin melihatnya. Ia sendiri tak bosan-bosannya menanyakan ketegasanku lewat Ida.

            Kemudian aku jatuh sakit. Aku menurut saja ketika dokter menyarankan agar aku dirawat di rumah sakit, ‘untuk sementara waktu’. “…agar bisa beristirahat penuh,” kata dokter.

            Ibulah yang setia menemaniku selama aku terbaring lemah di kamar yang serba putih ini. Ayah hanya sesekali datang menjenguk. Beliau tetap sibuk dengan bisnis kayunya. Dan Vivi, tunanganku, belahan jiwaku, cuma sekali menjengukku bersama Paman Amir dan Bibi Anisah, bapak-ibunya.

            Waktu itu sedang ada ayah, lengkaplah keluarga kami. Vivi membawa sekeranjang buah-buahan dan setangkai bunga. Mulanya kukira hatinya sudah berubah. Ternyata tidak.

            Setelah semuanya keluar dan aku tinggal sendiri di kamar, kupeluk erat-erat bunga yang diletakkan Vivi di meja. Ternyata ada secarik kertas, terselip di tangkainya. Kubaca: Bagaimana? Sudah bisa memutuskan pertunangan kita?

            Dua hari sesudah aku kembali ke rumah, seusai salat isya, kutemui ibu di dapur. Beliau sedang memasak sop untuk makan malam; ayah membaca Review di meja makan sambil menunggu makan malam.

            “Bu, katakan ke ayah agar beliau memutuskan pertunangan Gun dan Vivi,” kataku mantap.

            “Kamu yakin pada apa yang kamu ucapkan?”

            “Ya.” Kuserahkan kertas yang Vivi topengi dengan bunga itu pada beliau.

            “Kapan Vivi memberikan ini?”

            “Bersama setangkai bunga ketika Gun terbaring di rumah sakit, seminggu yang lalu.”

            Lalu, untuk pertama kalinya seumur hidup, aku melihat wajah ibu mengekspresikan kegeraman yang gagal beliau tahankan. Tapi hanya sesaat. Sesudah itu beliau tersenyum dan mengangguk-angguk kecil, entah apa artinya.

            Ketika aku mengerjakan pe-er matematika, sehabis makan malam, terdengar ketukan jari-jari ayah di pintu kamarku. “Boleh ayah masuk, Gun?”

            Aku segera beranjak membuka pintu.

            “Ayah mau bicara.”

            Aku diam saja, menunggu pertanyaan yang sudah kuduga.

            “Ayah cuman mau tanya, kenapa sih Vivi enggak bisa mencintai Gun?”

            Aku terkejut seketika karena dugaanku meleset. “Entahlah, Yah. Vivi hanya bilang, dia kadung menganggap Gun sebagai kakak kandung.”

            “Hanya itu?”

            Aku mengangguk.

            Sepeninggal ayah dari kamarku, tak sengaja kuhadapkan wajahku pada cermin. Di situ ia tergambar dengan sempurna, lengkap dengan jerawat dan beberapa flek hitam yang bertaburan di permukaannya yang memang buruk.

            Cermin di depanku pecah dan luruh ke lantai begitu jotosanku mendarat persis di tengah-tengahnya.

 

Guluk-Guluk, 18 Juni 1996

 

© Cerita ini didedikasikan kepada seorang kawan

yang tak dicintai tunangannya sendiri

meski ia puja setengah mati.

Dipublikasikan di Surabaya Post,

entah tanggal berapa, bulan apa, tahun 1996.

Karena Aku Hanya Angin

–bagi L.M
 
percaya pada senyummu yang tak pernah kupandang
serumpun mawar tumbuh bersama ilalang
jiwaku menghampar sehijau padang
dan esok matahari akan menyanyikan lagu kepodang
 
tapi hidup tetap carutmarut bianglala
bukan ramalan cuaca
langit masih tanpa tanda
tiap detik beralih warna antara doa dan kecewa
 
diamlah sejenak, Vera
sejenak saja
dengarkan bisik hening
walau bagimu asing
 
ya, mestinya tak ada sesuatu
yang kaucatat di buku mimpimu
karena aku hanya angin
meski tak berserah pada musim

1996

Isyarat Melati

 

hingga pada akhirnya
terlalu banyak kata yang terbuang percuma
lantaran bara makna di tungku jiwa
masih dipenuhi kenangan yang tersisa
 
sementara selaksa bulan dan matahari menjadi batu
memenuhi kepala dan dadaku
aku tak bisa apa apa
meski lidahku ingin melafalkan seucap kata
 
tapi
benarkah tak ada yang mau mengerti
isyarat melatiku
lewat angin malam yang biru
 
1995

Intermezo

tunggu sebentar, nak
ibu hendak istirah walau sejenak
nanti kita lanjutkan lagi
mencari makam bapak di peta bumi
 
(tapi aku tak tahu, ibu
apakah setelah ketemu
kita masih bisa bertahlil
dan abai pada bedil)
 
1998

Mutiara Hati

setiap kali kucari mutiara
ke dasar samudera
selalu kutemu hatiku:
mencintaimu!
 
1995 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.